Mengenal 8 Perbedaan Smoke dan Heat Detector

Mengenal 8 Perbedaan Smoke dan Heat Detector

Sistem proteksi kebakaran memiliki peran penting dalam melindungi keselamatan jiwa dan aset dari risiko kebakaran. Smoke detector dan heat detector merupakan dua perangkat deteksi kebakaran yang umum digunakan 

Meskipun keduanya sama-sama berfungsi mendeteksi potensi kebakaran, keduanya memiliki cara kerja dan karakteristik yang berbeda.

Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan smoke detector dan heat detector untuk membantu dalam menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan perlindungan kebakaran.

Pengertian Smoke Detector

Menurut The National Fire Protection Association (NFPA), smoke detector adalah perangkat yang mendeteksi partikel hasil pembakaran, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. 

Detektor asap ini bekerja dengan mendeteksi partikel asap dimana menjadi tahap awal dalam mendeteksi kebakaran. Saat asap masuk ke ruang sensor, ini memicu suara dengung atau bunyi “beep” yang keras. Tujuannya untuk memperingatkan siapapun yang berada di area tersebut.

Smoke Detector - Sealan Indonesia
Smoke detector umumnya dipasang di ruangan indoor

Sebagian besar detektor asap beroperasi secara mandiri dan tidak terhubung ke sistem keselamatan kebakaran yang lebih luas.

Jenis Smoke Detector

Umumnya, ada 2 jenis teknologi utama deteksi dalam smoke detector yakni ionization detector dan photoelectric detector. Tetapi, ada juga jenis smoke detector lain yang dijelaskan di bawah ini:

1. Ionization detector 

Detektor dengan teknologi ionization menggunakan sedikit bahan radioaktif yang terlindung dengan aman untuk mengionisasi molekul udara di antara dua pelat logam. Partikel asap yang masuk ke dalam ruang detektor mengganggu aliran ion, sehingga memicu alarm berbunyi.

Detector ionization ini sangat sensitif terhadap partikel kecil dari kebakaran yang berkobar cepat (flaming). Misalnya kebakaran dari kertas atau minyak. Tetapi kurang sensitif terhadap kebakaran yang membara perlahan, misalnya dari kayu yang terbakar atau rokok.

2. Photoelectric detector

Photoelectric detector atau disebut juga dengan optical smoke detector menggunakan teknologi dengan mendeteksi cahaya yang dipantulkan oleh partikel dari berkas cahaya di dalam ruang sensor.

Cara kerja detector photoelectric adalah ketika terdapat partikel dan jumlah cahaya yang terdeteksi oleh detektor cahaya mencapai tingkat ambang batas tertentu, alarm akan berbunyi. Sebaliknya, jika tidak ada tidak ada partikel di dalam ruang sensor, cahaya dari berkas tersebut tidak mengenai detektor cahaya yang menandakan kondisi aman. 

Detektor jenis ini cenderung merespons lebih cepat terhadap kebakaran yang membara perlahan atau lambat (smoldering). Karena cenderung lebih sensitif terhadap partikel yang berukuran besar dan berwarna putih atau terang (sehingga lebih memantulkan cahaya).

Photoelectric smoke detector lebih cocok untuk dipasang di rumah karena sebagian besar kebakaran di hunian disebabkan oleh peralatan atau hal-hal yang berkaitan dengan listrik.

3. Multisensor atau combination detector

Combination detectors atau multisensor detector (atau juga disebut dual sensor smoke detector) ini menggabungkan beberapa sensor untuk memberikan deteksi kebakaran yang menyeluruh. 

Ada combination detector dengan sensor ionization dan photoelectric dimana bisa mendapatkan alarm yang responsif terhadap kebakaran smoldering maupun flaming.  Ada juga multisensor detector yang menggabungkan smoke dan heat, dan juga karbon monoksida sekaligus.

Detector ini juga umumnya lebih efektif dalam meminimalkan alarm palsu karena teknologi intelligent alarms yang digunakan.  

4. Aspirating smoke detector (ASD)

Jenis smoke detector yang lebih canggih adalah aspirating smoke detector atau detektor asap tipe aspirating.

Cara kerja detektor ini adalah dengan secara aktif menarik sampel udara ke dalam ruang deteksi melalui jaringan pipa atau saluran. Dengan metode ini, asap dapat terdeteksi pada tahap yang sangat dini, bahkan sebelum terlihat secara kasat mata.

ASD sangat cocok digunakan pada lingkungan yang membutuhkan peringatan dini, seperti ruang server dan ruang panel listrik.

Tujuan dan Fungsi Smoke Detector

Tujuan utama smoke detector adalah memberikan peringatan dini saat asap atau potensi kebakaran terdeteksi. 

Fungsi smoke detector adalah mendeteksi asap sejak tahap awal, bahkan dari partikel kecil yang tak terlihat. Sehingga memungkinkan respons yang lebih cepat untuk meningkatkan keselamatan jiwa dan meminimalkan kerusakan pada hunian, bangunan komersial, maupun fasilitas infrastruktur. 

Bagi pemilik bisnis, penggunaan smoke detector juga menjadi langkah preventif untuk melindungi aset, peralatan, dan fasilitas penting. Deteksi dini dapat membantu mengurangi dampak kebakaran, termasuk downtime dan gangguan operasional.

Pengertian Heat Detector

Sementara itu, heat detector adalah perangkat detektor kebakaran yang mendeteksi suhu yang sangat tinggi atau laju kenaikan suhu, atau keduanya yang dimana menjadi tanda adanya potensi kebakaran.

Sesuai namanya, detektor panas mengidentifikasi kondisi berbahaya berdasarkan peningkatan suhu ruangan. Umumnya, heat detector ini dipasang di tempat seperti dapur, garasi, server room, dan area lain yang memungkinkan adanya panas atau lonjakan suhu.

Heat Detector - Sealan Indonesia
Heat detector dipasang di area dapur untuk mengurangi alarm palsu

Heat detector bekerja dengan mendeteksi perubahan suhu di lingkungan sekitarnya. Alat ini mengaktifkan alarm ketika suhu meningkat hingga ambang batas yang telah ditentukan atau saat terjadi kenaikan suhu yang cepat dalam waktu singkat. 

Jenis Heat Detector

Secara umum, terdapat dua jenis heat detector yang paling banyak digunakan dalam fire protection system, yaitu Fixed Temperature Heat Detector dan Rate of Rise (ROR) Heat Detector. Dan ada juga kombinasi keduanya.

Masing-masing heat detector ini dirancang untuk merespons kondisi panas dengan metode deteksi yang berbeda yang dijelaskan di bawah ini:

1. Fixed temperature heat detector

Fixed temperature heat detector adalah perangkat detektor panas yang hanya aktif ketika suhu mencapai tingkat panas yang telah ditentukan (fixed temperature). 

Biasanya perangkat ini memicu alarm dengan ambang suhu antara 57°C dan 77°C atau lebih tinggi, tergantung pada jenis dan modelnya. 

Deteksi ini dapat dilakukan menggunakan komponen thermistor ataupun melalui teknologi mekanis yang lebih sederhana. Dan fungsi utamanya adalah mendeteksi panas saat tercapainya suhu batas tersebut.

2. Rate-of-rise heat detector

Rate-of-rise (ROR) heat detector adalah detektor panas yang mendeteksi peningkatan suhu dalam waktu cepat, terlepas dari suhu awalnya. Biasanya ROR heat detector mendeteksi lonjakan suhu lebih dari 6°C hingga 8°C per menit. 

Detektor ini dilengkapi dengan dua sensor panas: satu untuk mendeteksi panas langsung dari api dan satu lagi untuk memantau suhu ruangan. Alarm akan aktif jika terdapat perbedaan suhu yang signifikan antara kedua sensor tersebut dalam waktu singkat.

Fungsi detektor ini mendeteksi lonjakan suhu yang tiba-tiba, bukan suhu spesifik tertentu, sehingga lebih responsif terhadap kebakaran yang merambat dengan cepat.

3. Rate compensated heat detector

Rated compensated heat detector perangkat yang bereaksi ketika suhu udara di sekitarnya mencapai tingkat yang telah ditentukan sebelumnya, terlepas dari seberapa cepat kenaikan suhu tersebut. 

Detektor ini juga disebut sebagai detektor kombinasi karena menggabungkan prinsip deteksi laju kenaikan suhu (rate-of-rise / ROR) dan deteksi suhu tetap (fixed temperature). 

Hal ini memungkinkan aktivasi pada suhu spesifik yang telah dikalibrasi sebelumnya, sekaligus meminimalkan dampak thermal lag, yaitu jeda waktu alami yang diperlukan detektor untuk mencapai suhu lingkungan sekitarnya.

Tujuan dan Fungsi Heat Detector

Seperti yang diketahui, fungsi utama heat detector adalah mendeteksi kenaikan suhu. Ketika suhu meningkat, detector panas akan merespon dan memberikan sinyal. Detektor ini umumnya dipasang untuk mendeteksi kebakaran yang berkembang secara perlahan.

Heat detector bertujuan untuk memberikan peringatan sekaligus mengurangi alarm palsu (false alarm) di area yang memiliki memiliki tingkat polusi udara, uap, atau kontaminan lain yang tinggi. 

Hal ini disebabkan smoke detector tidak cocok dipasang di area ini, sebaliknya heat detector berfungsi optimal di area ini. Sehingga dapat memberikan peringatan bagi para penghuni.

Perbedaan Smoke dan Heat Detector

Setelah memahami pengertian dan fungsi masing-masing detector, selanjutnya kita akan membahas perbedaan antara smoke detector dan heat detector.

Mengenal 8 Perbedaan Smoke dan Heat Detector - Sealan Indonesia

Berikut perbedaan smoke detector dan heat detector yang dirangkum dalam tabel:

Deskripsi Smoke Detector Heat Detector
Cara kerja / cara mendeteksi Mendeteksi partikel asap di udara Mendeteksi perubahan suhu atau suhu tinggi
Sensitivitas Sangat sensitif terhadap asap Dipicu oleh panas atau kenaikan suhu yang cepat
Kecepatan deteksi Fast response / deteksi lebih cepat sebelum api membesar Cenderung lebih lambat karena menunggu suhu ruangan naik
Deteksi jenis kebakaran Cocok untuk kebakaran yang membara (smoldering) atau maupun berkobar (flaming). Cocok untuk kebakaran bersuhu tinggi
Resiko alarm palsu Rentan, karena dapat dipicu oleh uap, debu, asap masakan atau serangga. Tahan terhadap alarm palsu akibat asap atau uap dan lingkungan berdebu, lembab, atau berminyak 
Tujuan utama Sebagai peringatan dini untuk mendeteksi kebakaran Deteksi kebakaran di lingkungan dengan tingkat kontaminan yang tinggi
Lokasi / penggunaan ideal Kamar tidur, ruangan, lorong jalan, area publik dalam gedung / bangunan komersial Dapur, garasi, parkiran basement, fasilitas industri, boiler room, mechanical room, server room, industrial room, storage room, data center
Perawatan Memerlukan pembersihan debu dan pemeriksaan baterai secara berkala Mudah dirawat dengan pengujian dan pemeriksaan baterai sesekali

 

Mana Yang Lebih Baik Antara Smoke dan Heat Detector?

Setelah mengetahui perbedaan smoke detector dan heat detector, mungkin muncul di benak pikiran: mana yang lebih baik antara smoke detector vs heat detector? Jawabannya adalah tidak ada yang secara mutlak lebih baik. Karena detektor asap dan panas ini memiliki fungsi dan perbedaan masing-masing. 

Tetapi hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya dari karakteristik area atau lingkungan, kondisi aktivitas, resiko kebakaran seperti apa, dan lainnya.

Namun untuk peringatan dini kebakaran, smoke detector umumnya lebih unggul karena dapat mendeteksi asap sebelum suhu di area mencapai tingkat yang diperlukan agar heat detector aktif. 

Sementara itu, heat detector lebih cocok untuk mencegah alarm palsu di lingkungan yang kotor atau memiliki kadar uap tinggi.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Smoke dan Heat Detector?

Lalu, kapan sebaiknya menggunakan smoke detector dan kapan menggunakan heat detector? Jawabannya bergantung pada kondisi dan aktivitas di area yang ingin dilindungi.

Seperti yang dirangkum di atas, smoke detector umumnya digunakan untuk area yang membutuhkan deteksi asap sejak dini. Sedangkan heat detector lebih sesuai untuk area yang rentan terhadap asap, uap, atau debu yang dapat memicu false alarm seperti dapur dan server room.

Sealan Indonesia menyediakan berbagai pilihan smoke detector dan heat detector untuk membantu memenuhi kebutuhan sistem deteksi kebakaran di berbagai fasilitas.

Konsultasi dengan tim spesialis kami untuk solusi dan rekomendasi smoke dan heat detector yang sesuai dengan kebutuhan fasilitas Anda.

Related Article

Fire Protection System: Pengertian, Tipe, dan Manfaatnya
Pelajari lebih dalam tentang fire protection system, mulai dari apa itu fire protection system, tipe-tipenya hingga manfaatnya
Fire Protection System: Pengertian, Tipe, dan Manfaatnya - Sealan Indonesia

Ready to protect your assets from fire risk?

Consult your fire protection needs with our team of experts. Free of charge, no obligation.

Ready to protect your assets from fire risk?

Consult your fire protection needs with our team of experts. Free of charge, no obligation.

Scroll to Top